REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sementara itu, pengamat Zionisme dari Kajian Zionisme Internasional (KAZI), Muhammad Pizaro berpendapat keberadaan gerakan zionisme dalam sepakbola sudah berlangsung lama. Menurutnya, kehadiran zionisme dalam sepak bola adalah bagian dari pesatnya pertumbuhan industri sepak bola di abad ke-21. Seiring dengan kemajuan bisnis sepak bola, gerakan zionisme kian menancapkan kukunya dengan ragam cara.

"Secara jelas,  tujuan protokol zionisnme, untuk melenakan umat melalui berbagai bidang, termasuk sepak bola. Tujuan zionisme itukan menghancurkan agama, dan media menggapai itu apa saja," tegasnya. Ia mencontohkan Chelsea ketika dibeli oleh miliarder keturunan Yahudi asal Rusia, Roman Abramovich. Ia mengungkap, berdasarkan data majalah Forbes 2006, pada 13 Februari 2006 ia memiliki kekayaan bersih sebesar 18.2 miliar dolar AS dan menurut majalah Finance Rusia pada Januari 2007 kekayaannya mencapai 21 miliar dolar AS.

Ia dianggap sebagai orang terkaya yang tinggal di Inggris Raya pada tahun 2003. Segera setelah Abramovich mengendalikan Chelsea, paparnya, ia menanamkan modal dalam jumlah besar (diperkirakan mencapai 440 juta poundsterling sampai Januari 2006), dengan memperhitungkan pengambilalihan beban hutang sebesar 80 juta pounsterling dan transfer-transfer pemain.

Pizaro juga mengungkap usai mengambil alih Chelsea, Abramovich segera memasukan unsur Zionisme pada Chelsea. Hal pertama yang dilakukan adalah mengubah logo Chelsea. Pada logo tersebut terdapat singa yang merupakan simbol utama dalam yudaisme, kepercayaan Yahudi. Menurut kepercayaan Yahudi, Singa merupakan cerminan keperkasaan dan kekuatan.

Tak hanya itu, setelah mengalami kekalahan beruntun yang membuat 'Special One' Jose Mounrinho tergusur, Abramovich justru menarik pelatih Avram Grant. Ia seorang pelatih sepak bola yang lahir di Petah Tikva, Israel, 4 Mei 1955. "Dugaan kuat Abramovich sedang merancang jewish connection di tubuh Chelsea kala itu," ungkapnya.

Sementara itu, Innovative Minds (Inminds) mencatat klub Inggris Arsenal telah menandatangani sponsorship untuk mempromosikan Israel sebagai daerah tujuan wisata. Dengan nilai  sebesar  350 ribu poundsterling (sekitar Rp 5,9 miliar).  Perjanjian bertajuk ‘tujuan perjalanan resmi dan eksklusif Israel Arsenal’ ini diteken oleh keduanya pada 26 Februari 2009 di Hotel David Intercontinental, Tel Aviv, Israel.

Fahri mengungkap keberhasilan Israel menarik kerja sama dengan Arsenal ditengarai adanya koneksi Yahudi di dalamnya. Ia mencatat Uzi Gafni, salah seorang pejabat kementerian pariwisata Israel pernah menjelaskan mengapa Israel memilih Arsenal dan bukan klub lain sebagai partner kerja sama untuk mempromosikan pariwisata negaranya.

Kala itu Israel lebih memilih Arsenal karena koneksi Yahudi yang kuat dalam tubuh klub ini. Wakil Presiden dan Direktur Utama David Dein, Kepala Pelaksana Keith Edelman; dan Direktur Keuangan Danny Fiszman berdarah Yahudi. “Aku membutuhkan orang yang memiliki pertalian dengan Yahudi. Mungkin Edelman tidak pergi ke sinagog (tempat ibadah orang Yahudi) setiap hari Jum’at. Namun ia dan yahudi-yahudi lain di Arsenal adalah orang-orang yang sangat bersahabat dan selalu siap membantu Israel,” ungkapnya dengan mengutip Haaretz, sebuah surat kabar Israel yang pernah mewawancarai Uzi Gafni. (bersambung) -REPUBLIKA-
 


Comments


Your comment will be posted after it is approved.


Leave a Reply