REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Perkembangan sepakbola sebagai sebuah industri patut diwaspadai umat Islam. Pasalnya, keberadaan even seperti piala dunia mengancam umat dari pengalihan terhadap nilai-nilai islam, seperti, meninggalkan perintah shalat, mengacuhkan persoalan Gaza dan ragam masalah lain. Karena itu, umat harus berhati-hati dalam melihat sepakbola sehingga tidak terjerumus pada pengabaian nilai-nilai Islam. Demikian benang merah diskusi bertajuk Piala Dunia 2010, antara Konspirasi dan Sportifitas Olahraga yang berlangsung di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pengamat Gerakan Zionisme sekaligus pemimpin redaksi Media Ummat, Fahri Wajdi mengatakan dalam Islam, permainan (olahraga) itu sangat dibolehkan. Bahkan Rasullah SAW mengajarkan permainan seperti memanah, berkuda, dan berenang. Kata dia, hal yang kemudian dipersoalkan adalah olahraga yang meninggalkan nilai-nilai Islam seperti olahraga bola pantai yang kerap menonjolkan aurat, dan jenis olahraga yang menjauhkan umat atau membuat umat meninggalkan kewajibannya. "Pengertian itu yang dikenal dalam islam sebagai lahun minal Zalimun, yang artinya permainan yang melalaikan," ungkapnya.

Pada kasus piala dunia misalnya, papar Fahri, ada tiga motif utama yang menjadikan even akbar ini menjadi medium konspirasi. Tiga motif itu adalah motif ekonomi, motif budaya, dan motif politik. Pada motif ekonomi, piala dunia memang diakui sebagai bisnis paling menggiurkan dalam jagat sepakbola. Tercatat, dalam situs resminya, FIFA berhasil meraup keuntungan 2,1 triliun poundsterling dari penyelenggaraan Piala Dunia 2010.

Di sisi lain, ungkap Fahri, kondisi sebagian besar masyarakat Afsel sangat menyedihkan. Cerita penjambretan dan pencurian merupakan bukti yang kuat soal hal itu.Ia mencatat tingkat pengangguran di negara tersebut mencapai 25.1 persen dan 50 persen warga Afsel hidup di bawah garis kemiskinan.

Celakanya lagi, tambah dia, Afsel merupakan negara dengan angka penderita AIDS terbesar di dunia dengan 4.79 juta penduduk yang terinfeksi. "Piala Dunia tidak membangun ekonomi secara mendasar sekalipun tidak ada yang menyangsikan piala dunia adalah bisnis besar. Namun, pihak yang paling banyak diuntungkan adalah pemilik modal bukan konsumen," ungkapnya.

Pada motif berikutnya, motif politik, Fahri melihat kecenderungan peran sepakbola dalam membangun rasa nasionalis tingkat tinggi di kalangan negara-negara yang tergabung dalam FIFA cenderung semu. Ia menilai ikatan manusia bermacam-macam, ada persatuan yang sifatnya kemaslahatan atau kontemporer dan hobi.

Ia berpandangan model keterikatan seperti itu adalah ikatan yang tidak hakiki dan ikatan tersebut yang seharusnya tidak boleh menjadi ikatan utama. Sejatinya, kata dia, ikatan yang utama adalah ikatan  yang didasarkan akidah, karena menjamin keterikatan persatuan yang kuat. "Ikatan semu seperti dalam sepakbola tidak bisa langgeng, mereka bersatu tapi tidak menyelesaikan persoalan," katanya.

Selain tidak menyelesaikan persoalan umat, tambahnya, sifat nasionalis dalam sepakbola hanyalah mengalihkan umat dari persoalan utama. Peralihan itu didukung pula dengan globalisasi gerakan 3F (Food, fashoion, Fun). Tiga gerakan ini, kata dia, dengan mengutip pernyataan John Hargreaves yang mengatakan bahwa olahraga adalah cermin mikrokosmos masyarakat kapitalisme modern yang merupakan bagian dari integrasi sistem dominasi kelas dan eksploitasi. Sayangnya, kata Fahri, umat Islam tidak menyadari atau mengabaikan ketidaktahuan sistem yang dijalankan oleh Zionis sehingga menjadi kunci kegagalan umat islam terhindar dari jepitannya. (bersambung) -REPUBLIKA-
 


Comments


Your comment will be posted after it is approved.


Leave a Reply