KOMPAS.com —Pakailah baju batik di Afrika Selatan, maka Anda akan mendapat penghormatan yang luar biasa dari rakyat Afsel. Begitulah saran kepada saya dari seorang diplomat Indonesia yang saya jumpai di kantor Kedubes RI untuk Afrika Selatan, akhir September 2005 di Pretoria.

Di semua sudut kota besar di Afrika Selatan bisa kita jumpai papan-papan iklan ukuran raksasa dengan gambar Nelson Mandela. Pada papan-papan iklan itu, Bapak Bangsa Afrika Selatan ini berpose dengan senyum khasnya. Ada pesan dalam papan iklan itu yang rata-rata berisi ajakan untuk membangun bangsa dan negara.

Persis seperti di negeri kita pada zaman Presiden Soeharto dulu, di Afsel sana Mandela pun mengajak rakyatnya bekerja keras, mengajak ibu-ibu tidak lupa memberi imunisasi kepada bayi mereka, dan menyerukan pemuda berprestasi dalam olahraga. Yang menarik, gambar Mandela di papan-papan iklan raksasa itu sedang mengenakan kemeja batik. Luar biasa.

Bagi rakyat Afrika Selatan, batik memang sudah menjadi barang mewah. Bagaimana tidak, Mandela yang mereka puja, di mana pun dan dalam acara apa pun, resmi atau tidak resmi, nasional maupun internasional, selalu mengenakan batik. Seolah-olah, Mendela tidak memiliki kemeja lain kecuali batik. Seolah-olah kemeja batik Mandela ready stock. Dan yang terpenting, batik yang dikenakan Mandela seluruhnya benar-benar asli made in Indonesia, bukan batik produk negara lainnya.

Jadi, bagaimana rakyat Afrika Selatan tidak menghormati kita yang mengenakan batik saat jalan-jalan di sana? Lha wong, Mandela saja, Bapak Bangsa, orang yang paling mereka puja, selalu mengenakan kemeja batik.

Mandela sendiri sudah dua kali berkunjung ke Indonesia. Kunjungan pertamanya dilakukan tahun 1998 pada era Presiden BJ Habibie. Kunjungan keduanya dilakukan pada era Presiden Megawati, tahun 2002.  

Sumber saya di Afrika Selatan menceritakan tentang batik dan Mandela. Saat berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya, Mandela langsung jatuh cinta kepada batik. Oleh karena itu, kemudian, Presiden Habibie meminta kepada Iwan Tirta, perancang papan atas busana Indonesia, pakar dalam bidang perbatikan, untuk menghadap Presiden Habibie ke Istana Negara.

Lalu, Iwan Tirta pun diminta untuk melayani permintaan Mandela terhadap batik. Dan, ternyata rancangan dan pilihan motif Iwan Tirta klop dengan selera Nelson Mandela. Sejak saat itu hingga kini, Iwan Tirtalah yang terus-menerus memasok kebutuhan kemeja batik untuk Mandela, setiap saat, dengan jumlah yang unlimited dan harus ready stock.

Maka dari itu, berbanggalah kita bangsa Indonesia kepada Mandela karena beliau adalah sales promotion paling top bagi batik Indonesia untuk citra dunia. Coba lihat, ketika Mandela hadir dalam acara resmi FIFA di markas besarnya di Zurich, Swiss, awal bulan Juni 2006 untuk menerima estafet tuan rumah penyelenggara World Cup, Mandela pun mengenakan batik, bukan jas, busana resmi bangsa-bangsa Barat.

Lalu bagaimana dengan para pejabat kita, pembesar Indonesia? Bisa dihitung dengan jari pejabat kita yang mau mengenakan batik untuk acara resmi internasional seperti itu. Beda dengan Nelson Mandela, buat para pejabat Indonesia, mereka, barangkali, lebih senang dan bergengsi bila mengenakan setelan jas ketimbang batik.

Souvenir jadi bisnis


Seorang tokoh pemuda Indonesia yang beberapa kali berkunjung ke Afrika Selatan punya pengalaman menarik tentang batik. Ketika jumpa saya di Cape Town, dia bercerita bahwa dalam suatu kunjungannya ke Afsel, ia membawa lima koli kemeja batik. Maksudnya sebagai souvenir. Ia membelinya di Pasar Tanah Abang Jakarta seharga Rp 30.000 per potong.

Setelah batik souvenir itu habis dibagi-bagikan kepada pemuda di Afsel, seorang sejawatnya, pemuda asli Afrika Selatan, membisikinya. "Bagaimana kalau kita berbisnis batik," ujarnya. Lalu, pembicaraan pun berlanjut dengan topik mari berbisnis batik.

Di Afrika Selatan, batik yang kita beli seharga Rp 30.000 di pasar Tanah Abang Jakarta atau Pasar Beringharjo Yogya atau Pasar Turi Surabaya atau Pasar Pusat Grosir Batik Setono Pekalongan, di negerinya Nelson Mandela bisa laku dengan harga 300 sampai 400 rend atau sekitar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per potong. Fantastis!!

Tentu, keuntungannya akan semakin besar bila kita punya modal untuk berbisnis ke Afrika Selatan, dengan jualan batik yang terbuat dari bahan sutera, seperti batiknya Iwan Tirta yang selalu dikenakan Nelson Mandela.

Jadi, jangan takut. Ayo ramai-ramai menyerbu Afrika Selatan pada Juni-Juli ini untuk menyaksikan pesta sepak bola dunia World Cup South Africa 2010. Kita boleh menjadi suporter untuk tim negara mana saja. Yang penting, bisa happy-happy. Cukup membawa kemeja batik 100 potong dari Ranah Air, masukkan ke dalam koper, jual di sana dengan keuntungan bisa mencapai Rp 70 juta.

Tentu, keuntungan sebesar itu sudah sangat cukup untuk kita hidup sebulan di Afsel, sambil bersenang-senang bersama jutaan suporter yang datang dari seluruh dunia, dan pasti asyik. Itu lebih terasa lagi jika kita sembari menyanyikan lagu ciptaan K’naan, "Waving Flag" yang telah diresmikan menjadi lagu tema FIFA World Cup South Africa 2010: “Give me freedom, Give me fire … When I get older I will be stronger. They'll call me freedom. Just like a wavin' flag. And then it goes back, oh, oh, oh, oh…
 


Comments


Your comment will be posted after it is approved.


Leave a Reply